Arsip untuk Februari 14th, 2008

14
Feb
08

Buat apa sembunyikan rasa cinta?

Apakah lingkungan kehidupan beragama Anda adalah kalangan muslim yang menjalani syariat Islam secara keras atau teramat ketat? Kalau iya, barangkali Anda jarang menyaksikan rekan-rekan Anda jatuh cinta. Bahkan, kalau pun mereka jatuh cinta, Anda mungkin tak pernah mendengar mereka mengungkapkan isi hati mereka ini. Ekspresi cinta di luar nikah dianggap tabu. Tahu-tahu, dari perkenalan ala kadarnya, mereka tampak sudah langsung berada di tahap khitbah (peminangan). Tahu-tahu, mereka telah bergegas menikah.

Andai Anda berada di lingkungan begitu, maklumlah saya apabila Anda suka menyembunyikan rasa cinta, betapapun beratnya. Anda merahasiakan isi hati Anda ini mungkin lantaran malu. Boleh jadi Anda khawatir kalau-kalau orang-orang di lingkungan Anda itu tahu bahwa Anda sedang dirundung cinta. Kalau mereka tahu bahwa Anda sedang jatuh cinta, Anda khawatir mereka akan menilai Anda sebagai “orang yang tak saleh dan tak taat beragama.” Bahkan, Anda sendiri barangkali mengira, jatuh cinta kepada lawan-jenis itu merupakan kelemahan yang tak pernah mendera orang yang beriman.

Hanya saja, benarkah jatuh cinta itu pertanda kelemahan diri? Benarkah orang-orang yang beriman tak pernah jatuh cinta kepada lawan-jenis? Benarkah mereka selalu menyembunyikannya manakala dirundung asmara?

Tidak, tidak, tidak! Ibnu Hazm mengabarkan bahwa sebagian orang yang beriman, termasuk para khalifah dan imam-imam tersohor, pernah dirundung cinta kepada lawan-jenis tanpa menyembunyikannya.

Di buku Di Bawah Naungan Cinta, hlm. 21-23, Ibnu Hazm menampilkan beberapa contoh orang beriman yang jatuh cinta kepada lawan-jenis tanpa menyembunyikannya. Diantara mereka ialah:

  • Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, salah seorang dari tujuh ahli fiqih Madinah yang masyhur dengan julukan bakhran minal bukhuur fil ‘ilmi, samudera dari samudera-samuderanya ilmu;
  • Al-Muzhaffar Abdul Malik bin Abu Amar yang mencintai putri seorang tukang kebun, yang percintaannya disaksikan sendiri oleh Ibnu Hazm;
  • Pembesar-pembesar di Andalusia, seperti (1) Abdurrahman bin Mua’awiyah yang mencintai Da’ja’, (2) Abdurrahman bin Al-Hakam yang mencintai Tharub dan membuahkan anak, (3) Muhammad bin Abdurrahman yang mencintai Ghazlan dan juga membuahkan anak, (4) Al-Hakam Al-Mustanshir yang jatuh cinta kepada Shabah yang kemudian menjadi ibu bagi anaknya. (Para pemimpin negeri di zaman Ibnu Hazm itu seolah-olah tak mau mempunyai keturunan selain dari wanita-wanita yang dicintainya.)

Itulah contoh-contoh dari Ibnu Hazm di masa lalu. Bagaimana dengan lingkungan kita, Indonesia, pada masa sekarang? Tidak pernahkah kita saksikan tokoh Islam atau pun ustad yang dirundung asmara tanpa merahasiakannya?