14
Mar
08

[Movie] Ayat-ayat Cinta

ayat-ayat cinta

Saat ini masyarakat di negeri kita sedang ‘gandrung2′nya membicarakan sebuah film yg diambil dari novel fenomenal, ya … Ayat-ayat Cinta, karya Ust. Habiburrahman El Shirazy, Lc. Seorang yg pernah menjadi pengajar (atau masih ?) di Ma’had Abu Bakar Ash-shiddiq, Solo.

Judul postingan ini ane tambahin dengan kata “Watch” dengan maksud sebagai kritik dan masukkan buat siapapun … terkhusus bagi para sineas Islam.

Ada beberapa hal yang ane tangkap ketika selesai menyaksikan film AAC tsb :

Kritik sosial yang disampaikan dalam novel kurang terasa ketika difilm-kan. Contoh sederhananya adalah karakter utama Fahri yang jauh dari karakter seorang pemimpin. Bahkan terkesan lemah (di film). Mudah putus asa, ‘cengeng‘, kurang terasa nuansa ruhiyah-nya (untuk ukuran seorang yang hafidz Al Qur’an). Padahal karakter seperti ini kalau memang benar-benar ditampilkan, akan menjadi sebuah kritik sosial yang sangat ‘menohok’ bagi siapapun yang melihatnya, entah pejabat maupun para mahasiswa (generasi pemuda). Siapapun yang pernah membaca novel fenomenal tersebut sampai tuntas, pasti akan terbesit di dalam hati “aku ingin menjadi seorang Fahri !“. Tidak salah memang, karena tokoh Fahri pun meneladani Rasululloh SAW.

Karakter Fahri yang (lagi-lagi) kurang sesuai dengan citra seorang muslim. Ada beberapa hal yang ane tangkap di film ini, antara lain : Fahri minum sambil berdiri (pun seorang Syaeful yang minum dengan tangan kiri sambil berdiri, inikah cerminan seorang Azhariy ?) dan kurangnya menjaga pandangan (terhadap wanita).

Ada adegan yang kurang pas, ketika orang mesir memukul Fahri, terus teriak ALLOHU AKBAR! Seolah-olah ucapan ALLOHU AKBAR identik dengan kekerasan.

Ada adegan ‘Aisha sholat dengan tetap menggunakan cadar ? Aku kurang tahu, apa Pak Hanung sudah mengkonsultasikan ini dengan penulis novel atau belum.

Dari semua hal di atas, yang paling disesalkan adalah film ini lebih menonjolkan unsur romantisme, bukan keindahan Islam yang meliputi segala aspek (bukan hanya dalam hal romantisme saja).

Satu hal yang ane harapkan dari film ini, mudah2an aja para generasi muda yang sudah menyaksikannya bisa benar-benar mengambil hikmah. Proses ketika harus memulai kehidupan berumah tangga (Married) tidaklah harus dengan jalan PACARAN. Keberhasilan dan kebahagiaan yang didapat dari suatu pernikahan adalah mutlak karena  ridho dari Alloh SWT.  Pacaran yang seringkali dijadikan syarat wajib untuk menikah bukanlah cara2 Islam dan bahkan merupakan jurang dalam menggapai ridhoNya. Istilah ta’aruf barangkali masih terasa asing ditelinga para generasi muda sekarang ini. Tapi itulah langkah awal yang semestinya bisa kita jadikan pelajaran bagi kita semua.

Ya, setiap hal pasti ada kekurangan dan kelebihannya … Bagaimana menurut anda ?


5 Tanggapan ke “[Movie] Ayat-ayat Cinta”


  1. 1 Anonymous
    25 Maret, 2008 pukul 8:44 am

    setuju banget tuh

  2. 2 ERFAN
    26 Maret, 2008 pukul 7:54 am

    mudah2an ya… masoelist, saya setuju banget tuch klu nikah mesti pke cr2 yg islami. saya termasuk orang yang menolak dengan adanaya Pacaran….

  3. 3 Hafshah
    5 April, 2008 pukul 6:23 am

    Assalamu’alaikaum

    Blognya bgs bgt. smg ini bisa jd alternatif media dakwah untuk menyuarakan kebenaran Islam.
    AAC, Saya lebih suka dengan imajinasi saya ketika baca novel ketimbang nonton filmnya. yg saya sesalkan tokoh nurul dlm film ini sptnya jauh dari novelnya, nurul adalah seorang aktifis, pintar, dan mandiri yang di film kurang muncul. Tapi apapun itu yang jelas Film AAC memberikan warna baru di perfilman smg kedepannya lebih banyak novel2 islami yg difilmkan. Karya H.R. El Shirazy ini bagus2 lho…

  4. 4 khasanah
    6 April, 2008 pukul 2:26 am

    Ass Wr Wb

    bagaimanapun juga movie AAC tetap harus kita acungi jempol…untuk bisa menerjemahkan sebuah novel kedalam bentuk film memang sulit, apalagi untuk bisa membuat imajinasi yang sama tentu sangat sulit sekali. bagi yang sudah membacanya tentu akan berimajinasi sesuai dengan pandangan dan pemikiran yang dimilikyna, dan bisa jadi setiap orang akan berbeda-beda imajinasinya.
    memang tidak ada masalah, siapapun boleh berpendapat dengan opininya masing2…bagi saya AAC sudah memberikan pelajaran apik dan warna tersendiri bagi dunia perfilman indonesia.

    Wassalam…

  5. 23 Juni, 2008 pukul 10:16 am

    Aac….memang benar dan bagus isinya dalam novel,distu kita bisa Ambil hikmah dr yg cara fahri makan,bergaul dg bukan muhrimnya yg tanpa berdua dua_an…dsb tp sayang’y stlh dibuat film ia sudah menyimpang jauh dr novel.fahri yg gaul&metropolis,mengagumi mata aisyah ktk memandang’y ‘makan sambl berdiri,ber2 duaan dg maria..dan aisyah tetap menggunakan cadarny ktk sholat..itu jauh dari apa yg diungkpkan/dimaksud penulis dalam novel.apkh film ini bs disbt film islami?mereka bermain bukan dg muhrim,y kemudian main breng sbg suami istri,bgmn ini?pdhl dlm islam jagalah wahai wanita/pria pandangan kalian..afwan sbnr’y masih bnyk yg mau ana utarakan tp lain kali aja ya..MOGA ALLAH memberi petunjuk kt semua.AMIIN


Tinggalkan Balasan