KALAU kamu pernah nonton film I’m Legend yang dibintangi Will Smith, pasti kamu bakalan tahu betapa berartinya orang-orang di sekitar kamu. Yups, tak hanya saat suka, tapi ketika dirundung duka, kita akan mencari sandaran untuk berbagi masalah.
Selain keluarga, pastinya sahabat yang akan dipilih untuk menjadi “tempat sampah” semua persoalan kita. Tapi pernahkah kamu sadar, kadang sikap kita tak sesuai dengan apa yang diinginkan sahabat? Siapa tahu sahabat kita merasa, kamu hanya datang saat kamu butuh? Duh, jangan sampai yah…
Nah, kali ini masoelist bakal mengupas tentang masalah itu. Istilahnya “Habis manis sepah dibuang.” Rini, salah satu siswa SMAN 1 Sukodono berkomentar lugas. “Pasti sedih lah, kalau teman kita hanya ada saat dia butuh, giliran kita ada masalah eh, dianya gak ada. Yang jelas sangat kecewa,” ungkap dara yang baru masuk kelas X itu.
“Yang namanya sahabat itu saling berbagi, dan ada saat suka maupun susah,” tambah Rini. Hal ini diamini Edi. Menurut Edi, salah seorang siswa kelas X juga, kita semestinya terbuka dengan teman yang seperti itu. “Menurutku teman yang hanya ada saat dia butuh sebaiknya kita tegur aja langsung, biar dia bisa instrospeksi diri,” ungkap siswa bernama lengkap Edi Kurniawan itu.
Tak jauh berbeda dengan Karina, yang juga pernah mengalami masalah tersebut. Karina yang terdaftar sebagai siswi kelas XI IPA 1 di SMA Negeri 1 Sukodono ini berdalih, bahwa anak yang punya sifat kayak gitu tak pantas dijadikan sahabat. Meski begitu, doi membenarkan bahwa hal itu wajar terjadi dalam hubungan antarsahabat. “Tiap orang punya sifat berbeda-beda. Ada yang yang baik, ada juga egois kayak gitu,” katanya.
Mungkin, lanjut Karina, dia belum tahu apa itu arti sahabat yang sebenarnya dan bagaimana semestinya bersikap. Benar juga sih, bukannya hakikat sahabat adalah saling berbagi.
Komentar Terakhir