Arsip untuk Kategori 'Curhat'

14
Mar
08

Sahabat Tempat Berbagi

KALAU kamu pernah nonton film I’m Legend yang dibintangi Will Smith, pasti kamu bakalan tahu betapa berartinya orang-orang di sekitar kamu. Yups, tak hanya saat suka, tapi ketika dirundung duka, kita akan mencari sandaran untuk berbagi masalah.

Selain keluarga, pastinya sahabat yang akan dipilih untuk menjadi “tempat sampah” semua persoalan kita. Tapi pernahkah kamu sadar, kadang sikap kita tak sesuai dengan apa yang diinginkan sahabat? Siapa tahu sahabat kita merasa, kamu hanya datang saat kamu butuh? Duh, jangan sampai yah…

Nah, kali ini masoelist bakal mengupas tentang masalah itu. Istilahnya “Habis manis sepah dibuang.” Rini, salah satu siswa SMAN 1 Sukodono berkomentar lugas. “Pasti sedih lah, kalau teman kita hanya ada saat dia butuh, giliran kita ada masalah eh, dianya gak ada. Yang jelas sangat kecewa,” ungkap dara yang baru masuk kelas X itu.

“Yang namanya sahabat itu saling berbagi, dan ada saat suka maupun susah,” tambah Rini. Hal ini diamini Edi. Menurut Edi, salah seorang siswa kelas X juga, kita semestinya terbuka dengan teman yang seperti itu. “Menurutku teman yang hanya ada saat dia butuh sebaiknya kita tegur aja langsung, biar dia bisa instrospeksi diri,” ungkap siswa bernama lengkap Edi Kurniawan itu.

Tak jauh berbeda dengan Karina, yang juga pernah mengalami masalah tersebut. Karina yang terdaftar sebagai siswi kelas XI IPA 1 di SMA Negeri 1 Sukodono ini berdalih, bahwa anak yang punya sifat kayak gitu tak pantas dijadikan sahabat. Meski begitu, doi membenarkan bahwa hal itu wajar terjadi dalam hubungan antarsahabat. “Tiap orang punya sifat berbeda-beda. Ada yang yang baik, ada juga egois kayak gitu,” katanya.

Mungkin, lanjut Karina, dia belum tahu apa itu arti sahabat yang sebenarnya dan bagaimana semestinya bersikap. Benar juga sih, bukannya hakikat sahabat adalah saling berbagi.

14
Feb
08

Buat apa sembunyikan rasa cinta?

Apakah lingkungan kehidupan beragama Anda adalah kalangan muslim yang menjalani syariat Islam secara keras atau teramat ketat? Kalau iya, barangkali Anda jarang menyaksikan rekan-rekan Anda jatuh cinta. Bahkan, kalau pun mereka jatuh cinta, Anda mungkin tak pernah mendengar mereka mengungkapkan isi hati mereka ini. Ekspresi cinta di luar nikah dianggap tabu. Tahu-tahu, dari perkenalan ala kadarnya, mereka tampak sudah langsung berada di tahap khitbah (peminangan). Tahu-tahu, mereka telah bergegas menikah.

Andai Anda berada di lingkungan begitu, maklumlah saya apabila Anda suka menyembunyikan rasa cinta, betapapun beratnya. Anda merahasiakan isi hati Anda ini mungkin lantaran malu. Boleh jadi Anda khawatir kalau-kalau orang-orang di lingkungan Anda itu tahu bahwa Anda sedang dirundung cinta. Kalau mereka tahu bahwa Anda sedang jatuh cinta, Anda khawatir mereka akan menilai Anda sebagai “orang yang tak saleh dan tak taat beragama.” Bahkan, Anda sendiri barangkali mengira, jatuh cinta kepada lawan-jenis itu merupakan kelemahan yang tak pernah mendera orang yang beriman.

Hanya saja, benarkah jatuh cinta itu pertanda kelemahan diri? Benarkah orang-orang yang beriman tak pernah jatuh cinta kepada lawan-jenis? Benarkah mereka selalu menyembunyikannya manakala dirundung asmara?

Tidak, tidak, tidak! Ibnu Hazm mengabarkan bahwa sebagian orang yang beriman, termasuk para khalifah dan imam-imam tersohor, pernah dirundung cinta kepada lawan-jenis tanpa menyembunyikannya.

Di buku Di Bawah Naungan Cinta, hlm. 21-23, Ibnu Hazm menampilkan beberapa contoh orang beriman yang jatuh cinta kepada lawan-jenis tanpa menyembunyikannya. Diantara mereka ialah:

  • Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, salah seorang dari tujuh ahli fiqih Madinah yang masyhur dengan julukan bakhran minal bukhuur fil ‘ilmi, samudera dari samudera-samuderanya ilmu;
  • Al-Muzhaffar Abdul Malik bin Abu Amar yang mencintai putri seorang tukang kebun, yang percintaannya disaksikan sendiri oleh Ibnu Hazm;
  • Pembesar-pembesar di Andalusia, seperti (1) Abdurrahman bin Mua’awiyah yang mencintai Da’ja’, (2) Abdurrahman bin Al-Hakam yang mencintai Tharub dan membuahkan anak, (3) Muhammad bin Abdurrahman yang mencintai Ghazlan dan juga membuahkan anak, (4) Al-Hakam Al-Mustanshir yang jatuh cinta kepada Shabah yang kemudian menjadi ibu bagi anaknya. (Para pemimpin negeri di zaman Ibnu Hazm itu seolah-olah tak mau mempunyai keturunan selain dari wanita-wanita yang dicintainya.)

Itulah contoh-contoh dari Ibnu Hazm di masa lalu. Bagaimana dengan lingkungan kita, Indonesia, pada masa sekarang? Tidak pernahkah kita saksikan tokoh Islam atau pun ustad yang dirundung asmara tanpa merahasiakannya?