Arsip untuk Kategori 'Muhassabah'

13
Apr
08

Hidup Tak Selamanya Indah

Hijau daun dan rerumputan, pohon-pohon tinggi menjulang yang memberikan keteduhan, embun pagi yang bertengger di pucuk-pucak daun, satu persatu bergulir dan jatuh ketanah bersamaan dengan terbitnya sang fajar. Sinarnya bagitu mencerahkan, menambah kehangatan pagi menggantikan malam berselimut dingin. Nyanyian unggas riang bersahutan mengkhabarkan datangnya pagi. Bunga-bunga kembali merekah menghiasharumi bumi, dahan-dahan serta dedaunan menari bergandengan tangan bangga menjadi bagian dari aksesori alam. Gemericik air mengaliri setiap sudut bumi dengan bebasnya. Dan bila malam tiba, saatnya rembulan menebarkan cahaya senyumnya yang anggun setelah sebelumnya kemilau senja nan elok senantiasa menghantarkan siang kepada malam. Taburan bintang-bintang di langit dan hembusan angin malam membasuh hangat seluruh alam. Maka, sempurnalah segalanya.


Untuk menambah kesempurnaan itu, maka Rabb Sang Pelukis keindahan alam pun memilihkan sebagian manusia untuk menjaga kelestariannya.
Namun disisi mereka, terdapat pula manusia-manusia pembuat kerusakan di muka bumi. Mereka menebang pohon-pohon di hutan, atau sekedar mengusik dedaunan hingga rontok dari dahannya. Mereka injak-injak rumput hijau dan memetik bunga-bunga hiasan alam untuk dinikmati sendiri atau dijadikan barang niaga. Manusia-manusia membangun gedung-gedung bertingkat, mengotori air, menukar cahaya rembulan dan kerlip bintang dengan lampu-lampu hiburan malam. Maka, sempurnalah juga segalanya.


Yang demikian itu, Allah Yang Maha Agung tengah memberikan tanda-tanda bagi segenap insan. Bahwa kehidupan dunia dengan keindahan dan kenikmatannya hanya sesaat. Setiap kali manusia merasakan keindahan itu, setiap saat itu pula ada kehancuran. Setiap kali manisnya hidup begitu menghanyutkan, setiap saat itu juga kepahitan menguntit. Kenikmatan hidup yang kerap dirasakan manusia, terkadang pada saat yang bersamaan ianya mengundang kegetiran. Sungguh, Allah berikan kenikmatan di tengah-tengah kegetiran, kepahitan diujung manisnya hidup serta kehancuran setelah keindahan yang begitu sempurna.


Hanya saja, begitu banyak manusia yang tidak menyadari kebijakan Tuhannya itu. Tidak sedikit pula mereka yang enggan untuk tahu dan melihat kenyataan itu. Yang ingin dan akan selalu diingini manusia adalah bagaimana merasai hidup ini seperti yang tertampakkan oleh mata kepala mereka. Manusia, tak lagi menoleh kepada gambaran yang sesungguhnya dari mata bathin, dari mata hati.


Samakah, kenikmatan secolek makanan yang didapat para pengais rezeki dengan taruhan nyawa dan beratnya perjuangan serta derasnya peluh, dengan setangkup roti diatas meja berselai strawberry milik para tuan berpunya, dimana mereka mendapatkannya hanya dengan menjuringkan mata. Tentu, mereka yang tidak menggunakan mata hatinya, akan melihat setangkup roti itu jauh lebih nikmat.


Saat sebagian orang tertidur pulas berbantal dan berselimut kesederhanaan, diseberang mereka ada yang tak bisa tertidur meski berkasur ketercukupan yang empuk dan melegakan. Mereka gelisah, takut, dan khawatir orang-orang yang berkekurangan mendatangi rumah-rumah berpagar tinggi mereka dimalam hari untuk merampas kenikmatan mereka. Bisakah terlihat perbedaannya disana?


Ketika orang-orang harus berjalan dengan menoleh ke kanan, ke kiri, belakang dan depan mereka terpasung curiga yang terkadang tanpa alasan. Hanya karena mereka takut orang lain mengganggu kenyamanan dan keamanan mereka, mereka tercekam, meski mereka berada dalam kendaraan mewah. Sementara disisi mereka, ada orang-orang yang kerap kali terciprat kotoran dari kendaraan yang berlalu lalang, tetap tenang dengan wajah berseri berjalan dimuka bumi. Mereka, tak pernah memikirkan apa yang bakal terjadi pada dirinya, tak pernah terbersit ketakutan orang akan merampas kenikmatan yang memang tidak dimilikinya. Namun, bukankah kenyamanan dan ketenangan itu menjadi keindahan dan kenikmatan hidup tersendiri? Adakah perbedaan yang terlihat?

Justru, seharusnya setiap menusia mengkhawatirkan saat-saat dirinya mau tidak mau, suka atau tidak, mesti meninggalkan keindahan dan kenikmatan dunia yang entah dimiliki atau tidak, yang entah ditumpuk-tumpuk atau dibagi-bagikan, yang entah bernilai dimata Allah atau tidak sama sekali. Justru, semestinya, manusia sejenak melupakan keindahan dan kenikmatan saat ini untuk sedetik saja membayangkan penderitaan saat sakaratul maut sambil mengira-ngira sakit macam apa yang diberikan-Nya saat itu. Ingatan ini, tentu bukan sentilan apalagi jeweran, ini hanya sentuhan kecil yang mencoba menyadarkan bahwa hidup tak selamanya indah, tapi juga hati-hati, agar kita tak menjadikan hidup ini selamanya tak indah. Wallahu a’lam bishshowaab.

30
Mar
08

Hidup itu Indah..

Hidup itu penuh kejutan, datangnya tiada pernah akan terkira, dia datang begitu saja, terkadang tanpa kita harapkan, namun ternyata itu yang kita butuhkan..

Alloh Yang Maha Tahu, Tahu apa yang terbaik untuk makhlukNya, apa yang dibutuhkan makhlukNya, namun terkadang kita tiada menyadarinya..

Hidup itu juga penuh pilihan, dan kita bebas memilihnya, bumi Alloh itu luas hingga ilmu dan pengetahuan yang dimilikiNya pun tiada terkira luasnya..

Seorang sahabat pernah berkata “.. kita ini di dalam suatu lingkaran besar, lingkaran besar itu dipagari dengan pagar-pagar indah, dimana apa yang kita inginkan semua tersedia dalam lingkaran besar ini, maka sudah seharusnya kita tidak boleh keluar dari lingkaran besar nan indah ini..”

Lingkaran besar itu adalah Islam, agama sempurna yang tiada cacat, berpagar-pagar indah yaitu, Al-Qur’an dan Al-Hadist, hingga apa yang kita inginkan terpenuhi, segala pertanyaan yang terdapat dalam otak kita terjawab sudah di dalam peninggalan Rasul Alloh, Muhammad SAW. Andai kita keluar dari lingkaran besar ini, berarti kita telah melanggar pagar-pagar nan indah ini, hingga kita mengkhianatiNya yang membuat kita keluar dari agama sempurna tiada cacat ini..

Sungguh, tiada kita inginkan hal seperti itu terjadi pada jiwa-jiwa kita, kita butuh cintaNya, kasihNya, maafNya, ampunanNya..

Alloh Yang Maha Sabar, Alloh Yang Maha Pemaaf, tiada Tuhan yang patut di sembah selain Alloh, karena izinNya kita hidup di duniaNya ini..

11
Mar
08

Cinta Ayah

Ada cinta yang kadang terabaikan, bukan karena tak berarti besar tapi karena cara pengungkapan yang berbeda..

Kita semua tahu, cinta Ibu tak akan pernah terbayar dengan apapun dimuka bumi ini, tapi bukankah cinta Ayah pun juga tak akan pernah terbayar dengan apapun dimuka bumi ini, meski Rasulullah dalam hadisnya hanya mengucapkan Ayah satu kali tapi sungguh cinta Ayah pun sesungguhnya tak pernah pudar..

Ingat, ketika Ibu sedang mengandung, Ayah yang paling khawatir akan kesehatan Ibu dan anaknya, Ayah yang setianya menunggu Ibu, meringankan tugas Ibu, memijit pinggang dan kaki Ibu, mengelus perut Ibu, menenangkan hati Ibu, dan menemani Ibu, itu semua dilakukannya ditengah kesibukan-kesibukannya, ditengah kantuk dan lelahnya, dan ditengah giat-giatnya mencari nafkah untuk buah hati yang akan segera lahir..

Ingat, ketika kita lahir dan mulai tumbuh berkembang, Ayah yang paling protektif menjaga kita, Ayah yang membantu Ibu mengganti popok kita di tengah malam meski baru pulang malam dan esoknya harus kembali mencari nafkah, memijit punggung Ibu yang menurut dokter itu dapat meningkatkan ASI, menemani Ibu dalam setiap kerepotannya, setidaknya baginya itu dapat menyenangkan dan membahagiakan istrinya kalau ia tidak sendiri..

Ingat, seorang Ayah, dengan cintanya, pergi pagi pulang malam mungkin malah ada yang beberapa minggu atau bulan sekali baru kembali pada keluarganya, tak ada yang lain karena cintanya pada istri dan anak-anaknya..setiap tetes peluh yang membasahi tubuhnya tak akan dihelanya karena cintanya pada istri dan anak-anaknya..keluh kesah jauh darinya hanya ingin melihat istri dan anak-anaknya tersenyum kala ia berjumpa dengan mereka..

Ingat, seorang Ayah, dengan lelahnya, ia sempatkan bermain dengan anak-anaknya, menjadi kambing jalan merangkak pun ia lakukan hingga anak-anaknya pun tertawa bahagia, sosoknya yang selalu dinantikan oleh istri juga anak-anaknya, tak ada lelah yang ia tampakkan..

Ingat, seorang Ayah, dengan kesabarannya, ia turutkan semua permintaan istri dan anak-anaknya, meski ada kecewa hampiri diri mereka, dengan kesabarannya ia hadapi dengan senyuman, hingga syukur itu selalu ada..

Ingat, seorang Ayah, dengan harapnya, hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya, hanya ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya, berharap rejeki yang halal untuk keluarganya, rejeki yang berlimpah untuk keluarganya, yang tentu saja datangnya dari ALLOH Yang Maha SegalaNya..

Cinta Ayah begitu berarti besar, ia yang mencari nafkah, menghidupi keluarga, ia lakukan dengan ikhlas dan lapang..dengan penuh kesadaran akan tanggungjawabnya..

Cinta Ayah begitu berarti indah, ia selalu berusaha untuk selamatkan keluarganya dari segala pintu neraka, ia didik dan jaga istri dan anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi tangguh yang selalu ingat akan Tuhannya, ALLOH Yang Maha SegalaNya, dan RasulNya..

Ayah dan Ibu, adalah sosok cinta yang berbeda, namun mereka berpadu satu dalam ikatan rumah tangga, menjadi indah, menjadi bermakna, Ayah dengan kekuatannya, Ibu dengan kelembutannya..

Cinta Ayah tak akan pernah pudar meski Rasulullah hanya mengucapkan sekali dalam hadistnya, meski negara tak menetapkan hari Ayah, cintanya tetap mengalir indah, mengajarkan banyak hal..